TOKSIKOLOGI OBAT

 

TOKSIKOLOGI OBAT

A.    PENGERTIAN TOKSIKOLOGI DAN RACUN

1.    Toksikologi

Toksikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang efek merugikan berbagai bahan kimia dan fisik pada semua sistem kehidupan. Dalam istilah kedokteran, toksikologi didefinisikan sebagai efek merugikan pada manusia akibat paparan bermacam obat dan unsur kimia lain serta penjelasan keamanan atau bahaya yang berkaitan dengan penggunaan obat dan bahan kimia tersebut. Toksikologi sendiri berhubungan dengan farmakologi, karena perbedaan fundamental hanya terletak pada penggunaan dosis yang besar dalam eksperimen toksikologi. Setiap zat kimia pada dasarnya adalah racun, dan terjadinya keracunan ditentukan oleh dosis dan cara pemberian.  Salah satu pernyataan Paracelsus menyebutkan “semua substansi adalah racun; tiada yang bukan racunDosis yang tepat membedakan racun dari obat”. Pada tahun 1564 Paracelsus telah meletakkan dasar penilaian toksikologis dengan mengatakan, bahwa dosis menentukan apakah suatu zat kimia adalah racun (dosis sola facit venenum). Pernyataan Paracelcus tersebut sampai saat ini masih relevan. Sekarang dikenal banyak faktor yang menyebabkan keracunan, namun dosis tetap merupakan faktor utama yang paling penting.

Toksisitas merupakan istilah dalam toksikologi yang didefinisikan sebagai kemampuan bahan kimia untuk menyebabkan kerusakan/injuri. Istilah toksisitas merupakan istilah kualitatif, terjadi atau tidak terjadinya kerusakan tergantung pada jumlah unsur kimia yang terabsopsi. Sedangkan istilah bahaya (hazard) adalah kemungkinan kejadian kerusakan pada suatu situasi atau tempat tertentu; kondisi penggunaan dan kondisi paparan menjadi pertimbangan utama. Untuk menentukan bahaya, perlu diketahui dengan baik sifat bawaan toksisitas unsur dan besar paparan yang diterima individu.  Manusia dapat dengan aman menggunakan unsur berpotensi toksik jika menaati kondisi yang dibuat guna meminimalkan absopsi unsur tersebut. Risiko didefinisikan sebagai kekerapan kejadian yang diprediksi dari suatu efek yang tidak diinginkan akibat paparan berbagai bahan kimia atau fisik.

Istilah toksikokinetik merujuk pada absopsi, distribusi, ekskresi dan metabolisme toksin, dosis toksin dari bahan terapeutik dan berbagai metabolitnya. Sedangkan istilah toksikodinamik digunakan untuk merujuk berbagai efek kerusakan unsur tersebut pada fungsi fital.

2.    Racun  

Racun sendiri mempunyai dua pengertian, yaitu:

1.    Menurut Taylor, racun adalah setiap bahan/zat yang dalam jumlah tertentu bila masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimia yang menyebabkan penyakit dan kematian.

2.    Menurut pengertian yang dianut sekarang, racun adalah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimia dan fisiologis yang dalam dosis toksik selalu menyebabkan gangguan fungsi dan mengakibatkan penyakit dan kematian. 

Racun masuk ke dalam tubuh melalui beberapa cara, yaitu melalui:

1.    mulut (Peroral, ingesti),

2.    saluran pernapasan (Inhalasi),

3.    suntikan (Parenteral, injeksi),

4.    kulit yang sehat/sakit, dan

5.    dubur/vagina (Perektal/pervaginal) 

Racun digolongkan berdasarkan tempat racun mudah didapat yaitu:

1.    Racun di Rumah tangga, seperti: Insektisida, racun dalam makanan kaleng, kosmetika, desinfektan, dan deterjen.

2.    Racun yang ada di lapangan pertanian/perkebunan, seperti: pestisida dan herbisida.

3.    Racun yang digunakan dalam dunia pengobatan, seperti: analgetika, obat penenang, antibiotik, antidepresan, dan lain-lain.

4.    Racun yang digunakan dalam bidang industri dan laboratorium, seperti: Asam–basa dan Logam berat.

5.    Racun yang ada di alam bebas, seperti: opium dan ganja, racun singkong, racun jamur, racun binatang 

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan pada seseorang yaitu: 

1.    Jenis Racunnya

2.    Dosis Racun

3.    Cara masuk kedalam tubuh

4.    Stabilitas racun dalam tubuh

5.    Resapan racun dalam tubuh

6.    Kondisi tubuh

Keracunan akut terjadi lebih dari sejuta kasus dalam setiap tahun, meskipun hanya sedikit yang fatal. Sebagian kematian disebabkan oleh bunuh diri dengan mengkonsumsi obat secara overdosis oleh remaja maupun orang dewasa. Kematian pada anak akibat mengkonsumsi obat atau produk rumah tangga yang toksik telah berkurang secara nyata dalam 20 tahun terakhir, sebagai hasil dari kemasan yang aman dan pendidikan yang efektif untuk pencegahan keracunan. Keracunan tidak akan menjadi fatal jika korban mendapat perawatan medis yang cepat dan perawatan suportif yang baik. Pengelolaan yang tepat, baik dan hati-hati pada korban yang keracunan menjadi titik penting dalam menangani korban.

 

B.     JENIS – JENIS TOKSIKOLOGI

Ada berbagai macam jenis – jenis toksikologi, seperti berikut :

1.    Toksikologi Deskriptif

Melakukan uji toksisitas untuk mendapat informasi yang digunakan untuk mengevaluasi resiko yang timbul oleh bahan kimia terhadap manusia dan lingkungan

2.    Toksikologi Mekanistik

Menentukan bagaimana zat kimia menimbulkan efek yang merugikan pada organisme hidup.

3.    Toksikologi Regulatif

Menentukan apakah suatu obat mempunyai resiko yang rendah untuk dipakai sebagai tujuan terapi.

4.    Toksikologi Forensik

Mempelajari aspek hukum kedokteran akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dan membantu menegakkan diagnosa pada pemeriksaan postmortem.

5.    Toksikologi Klinik

Mempelajari gangguan yang disebabkan substansi toksik, merawat penderita yang keracunan dan menemukan cara baru dalam penanggulangannya.

6.    Toksikologi Kerja

Mempelajari bahan kimia pada tempat kerja yang membahayakan pekerja dalam proses pembuatan, transportasi, penyimpanan maupun penggunaannya.

7.    Toksikologi Lingkungan

Mempelajari dampak zat kimia yang berpotensi merugikan sebagai polutan lingkungan.

8.    Ekotoksikologi 

Mempelajari efek toksik zat kimia terhadap populasi masyarakat.

9.    Toksikologi Ekperimental :

a.    Pemakaian obat secara kronik (anti hipertensi, obat TBC, kontrasepsi), harus disertai data  karsinogenik dan teratogenik dari obat tersebut.

b.    Pemakaian obat  dalam waktu pendek (obat cacing), harus memenuhi sarat toksisitas akut.

C.    CARA PENANGANAN KERACUNAN

Keracunan bisa terjadi di mana saja. Maka dari itu, kita perlu mengetahui cara mengatasinya dengan tepat, agar penderita keracunan dapat segera ditangani sambil mencari atau menunggu bantuan medis. Keracunan terjadi saat seseorang menelan, menghirup, atau menyentuh zat yang berbahaya bagi tubuh. Gejala keracunan mencakup sakit perut, muntah-muntah, diare, kehilangan nafsu makan, sesak napas, kesulitan menelan, kulit memerah, bibir membiru, kejang-kejang, hingga hilang kesadaran.

Apabila ada seseorang di sekitar Anda yang mengalami gejala keracunan, tetap tenang dan segera hubungi rumah sakit terdekat. Sambil menunggu bantuan, Anda dapat memberikan pertolongan pertama sesuai dengan penyebab keracunan yang dialami:

1.    Racun yang tertelan

Pada kasus racun yang tertelan, berikut cara mengatasinya:

a.     Minta penderita untuk meludahkan sisa racun yang masih ada di mulut. Namun, jangan memaksa penderita untuk memuntahkan racun yang sudah tertelan, karena justru bisa berbahaya.

b.     Jika penderita muntah secara tidak sengaja, segera bersihkan mulut dan tenggorokannya. Caranya, balutkan kain bersih ke jari dan tangan Anda, lalu  gunakan jari Anda untuk membersihkan mulut dan tenggorokannya.

c.     Bila penderita tidak sadarkan diri, cobalah untuk membangunkannya, lalu minta ia untuk meludahkan sisa racun yang masih terdapat di mulutnya.

d.     Sambil menunggu pertolongan medis datang, baringkan penderita dengan posisi miring ke arah kiri dan berikan bantal atau penyangga pada punggungnya. Tarik dan tekuk tungkai yang berada di atas ke arah depan. Posisi seperti ini disebut posisi pemulihan (recovery position).

e.     Jika korban keracunan sadar, minta ia untuk duduk dan pastikan penderita tetap sadar hingga tim medis datang.

f.      Jika zat berbahaya tersebut mengenai baju atau kulit penderita, segera bersihkan.

g.     Apabila korban keracunan tidak bernapas, lakukan prosedur CPR (resusitasi jantung paru) jika Anda mengetahui caranya.

2.    Racun yang terhirup

Untuk kasus racun yang terhirup, berikut adalah pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan:

a.     Apabila penderita menghirup racun dari udara yang tercemar, misalnya gas karbon monoksida, segera bawa ia keluar dari lokasi untuk menghirup udara yang lebih bersih.

b.     Jika penderita muntah  dalam posisi berbaring, miringkan kepalanya ke samping untuk mencegah ia tersedak.

c.     Apabila penderita tidak responsif, napasnya terhenti, atau tidak bernapas, lakukan prosedur CPR selagi menunggu bantuan medis datang.

3.    Racun yang mengenai kulit

Untuk mengatasi racun yang mengenai kulit, berikut adalah langkah yang perlu dilakukan:

a.     Jika kulit terpapar zat beracun, segera lepaskan pakaian yang dikenakan menggunakan sarung tangan.

b.     Bersihkan kulit dari racun dengan cara mencucinya menggunakan air dan sabun selama 15-20 menit.

Jika kondisi kulit terlihat semakin parah atau mengalami pembengkakan, segera cari bantuan medis di rumah sakit terdekat

Referensi : 


http://gogresik1804.blogspot.com/2017/02/toksikologi.html

file:///C:/Users/pc/Documents/FARMAKOLOGI%20SEMS%202/docdownloader.com_makalah-toksikologi.pdf 

https://www.alodokter.com/kenali-cara-mengatasi-racun-yang-tertelan

Komentar

Posting Komentar